Jika lebih dari satu #KeluargaMaheswara

July 15, 2020

Assalamu’alaikum
Apa yang kalian pikirkan ketika membaca judul diatas? rumah? mobil? apartemen? anak atau . . . .  istri? OH GOD! Plis tolong hentikan spekulasi anda tentang multiple choice apalagi tentang nambah istri. Ini baru sebulan lho kita nikah! Hahaha

Hai! lama ga lanjut nulis cerita prewedding, now i come backkkkk!! WUYUUU!!! Aku hanya ingin bercerita sedikit saja, tentang adanya pilihan lebih dari satu, tepat disaat bojo sedang gencat-gencatnya merapat.
Jika ditotal sepertinya ada 7 dengan bojo simpatisan kala itu. HUWOO!! Simpatisan? Ya mungkin sebenarnya lebih, tapi yasudahlah segitu aja dulu takut kalian tidak percaya hahaha.


Ia. Saat itu ada satu temannya teman yang dikenalkan. Dua lagi anak kolega mama. Satu teman sekantor, satu teman suami sepupunya sepupu dan satu lagi orang yang pernah menyimpan rasa kemudian datang lagi. Dan orang yang dulu aku pikir akan berani menikahiku nyatanya hanya jadi angin lalu juga sebenarnya menambah gimick kehidupan penambah berat penentuan.


Nah tuh ada berapa tuh?hahahha
Jujur, agak shock juga sebenernya. Ga nyangka aja. Secara? siapalah gue ini yekan? muka paspasan, bohai kaga, item iye, tinggi nyungsep yekan? bisa-bisanya berbondong-bondong gitu? disaat trauma-traumanya sama masa lalu. Disaat baru mau siuman aja, udah dihadapin ama lika-liku cinta trapesium yang menjadikan aku seolah kambing hitam biang kerecokan? Yang ~ ah lelah. .

Terlalu cepat datang sebenarnya. Baru bulan empat 2016 aku memutuskan untuk mengakhiri 11 bulan perjodohan yang mengecewakan. Tapi toh semua memang sudah diatur Tuhan. Pun dengan kehadiran-kehadiran yang silih berganti, membuatku lebih banyak bersyukur meski usiaku sudah tak bisa dikatakan remaja lagi. Ya! 25 tahun.

Kalo kata babeh “Disyukuri saja, ada banyak orang tak seberuntung kamu” meski jujur terlalu banyak pilihan juga bisa disebut ujian.

Bagaimana kau menanggapi semua yang mendekat? 
Kita tak tau jodoh kita siapa? yang mana? apakah yang terlihat mati-matian mencintai kita? atau yang ternyata tak pernah jumpa.

Aku merespon semuanya dengan baik. Kata Babeh “Persilahkan saja semua kerumah. Kita putuskan setelah babeh Umroh”. Karena lagi-lagi, aku tak punya tendensi lebih selain mempersilahkan niat baik mereka yang sungguh benar-benar mulia.Mohon maaf jika terkesan aku ini wanita apaan. Tapi mengatur jadwal agar kalian tak bentrok benar-benar ku lakukan.

Masing-masing dari kalian aku beritahu, bahwa yang mendekatiku tak hanya kamu. Ada fulan dan fulan. Aku tak mau memberi harap, padahal dibelakang aku sudah bersiap-siap dengan yang lain. Aku tak mau ada kedustaan yang membuat akhirnya tak baik-baik saja.

19 November 2016
“Asalamualaikum Nduk” | “Waalaikumusalam”
“Nduk, mas mau berangkat” | “Hati-hati dijalan”
“Mmm. . . kenapa kamu persilahkan mas menemui orangtuamu nduk? ” | “Kenapa emangnya? bukannya mas yang minta?”
“Mas tau, hari ini ada laki-laki yang juga datang menemui orangtuamu kan? Dia kurang apa? orang baik, orang hebat, pantas bersanding denganmu . . . “
Deg. Aku diam lama. Seketika air mataku menetes. Why? kenapa kau katakan itu?. Meski perasaan ini belum tumbuh, tapi . .

“Kenapa mas?” | “Ia, mas ngerasa kalo . . “ (Suaranya parau) ah!
“Mas, mas bilang mau perjuangin aku? kalo dengan ketemu orang tua aja mas ga mau maju. . .”
“Mas bukan ga mau maju, hanya saja, orang yang hari ini datang menurut mas sudah sangat baik, dan kamu masih memberikan kesempatan itu sama mas . . Kamu ga salah?”
“Kita ga pernah tau jodoh kita siapa? kita cuma bisa berusaha bukan?” suaraku serak.
“Ia Nduk, mas minta maaf” | aku diam cukup lama.
“Hati-hati dijalan”
Mataku panas. Hari itu, aku tertunduk cukup lama, meski teman-teman arisan rumah jendela sedang tertawa dengan renyahnya. Hatiku kacau tiba-tiba.
Kenapa telponmu barusan membuat hatiku tersayat? Apa kau mau menyerah begitu saja?
(Bersambung)

Bagikan Postingan ini :

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *