Disidang #KeluargaMaheswara

July 4, 2020

Asalamualaikum,
Cerita ini tentang moment yang katanya “Paling Berkesan”. Yang menjadi moodboster shalat subuh berjamaahnya mungkin. Menjadi penyemangatnya berhijrahnya barangkali. Dan yang pasti, yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini.

PINJAM BARANG
Hari kedua semenjak jumpa di 26 Agustus 2016, ia mengunjungiku lagi entah untuk apa. Lupa. Ah! ia aku tau, untuk sekedar meminjam jas almamater. Gercep sekali orang ini hahaha. Padahal kalo logicnya, mana muat ukuran yakan?

Modus meminjam barang bisa menjadi trik paling jitu untuk bertemu. Ulur-ulur aja. Bikin interaksi sebanyak mungkin. Haahahaa

“Nih! pakai aja” aku memberikan jas didepan kostan.
“Oke nanti aku ba . . . ( l  i k i n )”| “Ga usah dibalikin! aku ga butuh lagi ko” terlihat raut muka kecewa. Angkuh kali aku wak hahahaha. Tapi . . . “Yaudah, takut kesorean. Abis ini mau pulang atau . . ?”
“Ga, ketempat Bandot” | “Oh, nginep?” | “Ia, besok aku sidang . . . doain ya?” | “Sukses!” bojo mengaminkan. Dan tak berapa lama basi-basi itu berlalu, ia pulang.
SIDANG I
29 Agustus 2016. Bojo sidang kuliah S1. Lho katanya bareng? wkwkwkw jadi begini ceritanya.
Aku lulus di september 2012. Pas 3 tahun. Sedangkan bojo? meski kita satu angkatan, tapi beliau lulus setengah tahun lebih lama dariku. Betah meureun wkwkwk.
Bojo distrap 1 semester gara-gara nilai Jaringan Komputer yang divonis E. W H A I ? KENAPAH? Katanya kan bojo asprak kebanggan teknik komputer tersohor? terbaik? terfavorit? asprak terjuara dijamannya?
-__-” baiknya bojo memang ternyata sudah diracik dari lahir. Kata Babehnya bojo ketika bercakap dengan babeh kholid, “Saya punya 3 anak, dan yang paling pengertian dari ketiganya adalah Mas Andhika ini Pak” . Dan itu berimpek kepada keroyalan beliau di Ujian Semesteran. Bojo memberikan contekan kepada seluruh warga dan membuat dirinya mendapatkan tangguhan 1 semester untuk mengulang.

Karena Baik Belum Tentu BenarTapi yang Benar akan selalu Baik. Memang ada benarnya.

Ia intinya aku duluan lanjut S1 dari si Bojo. Jadi aja duluan aku lulusnya.

Jas kekecilan wk

Nah! hari itu bojo sidang. Aku tak begitu paham lika-liku ujiannya. Ntah bagaimana prosesnya, yang jelas tidak selama aku 3,5jam didalam ruang jahanam. Dan Alhamdulilah berita LULUS SIDANG masuk kedalam notifikasi watsapku.
“Alhamdulilah, selamat” balasku singkat
SIDANG II
Dan, seperti yang sudah-sudah, ia menjebakku dengan sengaja.
“Nduk, kamu udah dikostan?” | “Udah”
“Mas udah dibawah, makan yuk!”
RRRRRRRRR!!! Meski aku sudah makan, tak pantas juga tak menemuiny yang sudah datang dari depok raya, dan masih dengan euforia kelulusannya.

Eh sebentar “Nduk??” panggilnya?


Kau memasukan motor kedalam garasi, dan kita berjalan kaki 150 meter dari kostan. Hhhhh baru 4 hari, tapi sudah 3x aku jumpa denganmu. Rasanya cibitung – cideng cuma berjarak 5 meter saja. McD cideng menjadi tempat makan kita malam itu.

Oia, mas dhika memanggilku nduk memang dari awal-awal mula cuap-cuap pertama. Katanya “Genduk artinya anak perempuan” atau sapaan lain untuk anak perempuan dijawa. Dan, panggilan spesial itu sudah 25 tahun menjadi sapaan wajib mama untukku dan kakakku. Beliau memanggilku genduk karena ingin punya adik perempuan. So whaiiii??? Kenapa gueee???

Setelah memesan menu, makan kemudian kau bercerita tentang bagaimana rasanya sidang skripsi yang biasa saja itu wkwkw. Dan seperti laki-laki kebanyakan, kau menanyakan tentang kriteria apa yang aku cari? harus hafidzkah? kapan target untuk menikah? dan sebagainya dan sebagainya.
Mas Pinjam HP” | “Untuk?” Kau menyerahkan tanpa ku jawab untuk apa
“Baca”, aku menyodorkan surat Ar-Rahman ayat 1-55. Ku lihat raut wajahmu berubah pucat.
“Berapa ayat?” | “1 – 15” dan kau membacanyanya perlahan. Sesekali ku koreksi, makrojul huruf yang meleset. Sudah ayat 15, tapi kau masih lanjut saja. Sampai di ayat tengah-tengah kau berhenti. Memberi kode “eh sudah kelewaat ya?” dan aku mengangguk tanda “Baca terus sampai habis”. Kau menelan ludah. Dan kami saring mengoreksi.

“Shadaqallahul azhim . . “ kau menghena nafas. Aku diam saja. (Ngelatih mental cuiiii)
“Maaf ya? bacaanku masih banyak yang salah” | “Udah bagus ko” Aku mencoba menghibur, masih dengan raut muka datar wkwwk. (Kebayang kan?)
Mungkin, ini yang dimaksud sidang tanggal 29 Agustus 2016 untukmu.  Hahahaha. Test Quran adalah salah satu basic yang ingin aku tahu dari tiap-tiap lelaki yang mendekatiku. Minimal bacaan qurannya, mad tobi’inyaaaa aja, bisa ga. Biasanya aku lihat dari cara mereka shalat jahr berjamaah denganku. Dan bojo, langsung aja tanpa basa-basi ku sodorkan e-quran waktu itu wkwkw. DARIPADA KELAMAAN.
“Aku mau belajar” seolah membaca raut mukaku yang kecewa (padahal biasa aja, sungguh itu cuma buat ngelatih mental aja wkwk). Aku tersenyum. Memang sebenarnya itu yang aku harapkan.

Bagiku, orang yang mau belajar tidak mudah menyerah meski dihantam kegagalan berulang kali. Sementara orang yang hanya sekadar pintar bisa saja menyerah saat berhadapan dengan kegagalan yang sama. Saat mereka yang jagoan jumawa dengan kemampuannya, orang yang mau belajar justru tidak pernah bosan belajar sebanyak-banyaknya

Jujur, ini salah satu hal yang membuatku kemudian mantap memilihnya. Karena berumah tangga itu tidak sehari dua hari. Aku percaya bersamanya aku tak perlu merasa takut digurui. Aku tak perlu merasa takut dihakimi. Karena kita belajar mengerti, sisi lain dari yang tak pernah kita alami. Kita belajar bersama-sama. Ia kan?


BERUBAH
Aku mulai melihat perubahanmu perlahan. Mulai dari solat subuh yang katanya dibangunkan jam 4 kemudian tidur lagi karena baginya subuh itu berada di jam enam  — menjadi shalat subuh berjamaah dimasjid. Hahaha Hafalan juz 30nya yang bertambah. Keseriusannya belajar tahsin. Dan masih banyak lagi. Kau tak pernah berkoar-koar “Aku puasa lo! aku shalat di masjid lo! aku ngaji lo!” atau nge watsap boom “Tahajud Yuk” kaya yang udah-udah padahal di reminder sent wkwkw. Tapi ntah darimana, aku tau sendiri perubahanmu.

Aku fikir, itu hanya trik untuk merebut hatiku saja. Tapi Alhamdulilah, perubahanmu terasa sampai saat ini. Aku kerap kali terbangun dan mendapati kau tak disisi. Shalat subuhmu di masjid honey, betapa beruntungnya aku jadi istri.   Pun dengan negosiasi yang terlampau mudahnya dalam urusan kebaikan yang masih banyak lagi.

Semoga ini bukan euforia pengantin baru saja. Semoga kita bisa lebih baik lagi. Terus memperbaiki diri dan terus menjadi lebih baik lagi. Ah, aku menulis ini di hari ke 20 pernikahan. Masih terlampau dini. Tapi semangat harus meninggi. Semoga kita bisa saling menjadi pasangan penyejuk hati.

Tetap semangat saling mengingatkan ya mas. Sekarang kamu punya 2 makmum yang harus dipimpin. Dan aku percaya, kamu bisa jadi the best imam in our lyfe hehe, amin. 

Bagikan Postingan ini :

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *